Selasa, 19 Agustus 2014

Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende

Sebuah Surat Keputusan Pemerintah Hindia Belanda tertanggal 28 Desember 1933 membuat Bung Karno yang saat itu berusia 35 tahun harus menjalani hukuman pembuangan sebagai tahanan politik di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Di rumah pengasingan ini, Sang Proklamator bersama istrinya Inggit Ganarsih, mertuanya Ibu Amsih, dan dua anak angkatnya Ratna dan Kartika, menghabiskan waktu mereka sebagai tahanan politik. Rumah beratap seng ini berada di daerah Nggobe tepatnya di Jalan Perwira, Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur.
Selama di Ende, Soekarno dan keluarganya menempati sebuah rumah di tengah perumahanan penduduk biasa.Rumah itu milik Abdullah Ambuwaru. Setelah Indonesia merdeka, Soekarno mengunjungi Ende untuk pertama kalinya pada tahun 1951. Ia bertemu Abdullah Ambuwaru dan meminta agar rumah tempat tinggalnya itu dijadikan museum. Pada kesempatan kunjungan yang kedua (1954), Soekarno meresmikan rumah tersebut sebagai Situs Bung Karno pada tanggal 16 Mei 1954.
Pada 1 Mei 2012 diletakkan batu pertama sebagai tanda renovasi Situs Bung Karno. Secara resmi, situs tersebut direnovasi pada 23 Juni 2012. Renovasi dilakukan secara total, mulai dari dinding, lantai sampai atap, tetapi tidak mengubah bangunan lama. Rencana renovasi merupakan inisiatif Wakil Presiden Boediono yang berkunjung ke Ende pada tahun 2009 dalam rangka menelusuri jejak pelopor utama kemerdekaan.Tujuan merenovasi Situs Bung Karno di Ende adalah untuk membuat ikatan batin antara Ende dan Republik Indonesia, antara satu generasi dengan generasi yang akan datang. Keterlibatan aktif Boediono ini diwujudkan dengan membentuk Yayasan Ende Flores yang kegiatan pertamanya adalah pemugaran bangunan fisik Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende. Pembangunan dilaksanakan selama kurang lebih satu tahun di bawah pengawasan Yayasan Ende Flores yang berkoordinasi dengan Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Situs bersejarah yang telah selesai dipugar diresmikan oleh Wakil Presiden Boediono pada tanggal 1 Juni 2013 yang bertepatan dengan peringatan hari Kelahiran Pancasila. (http://id.wikipedia.org/wiki/Rumah_Pengasingan_Bung_Karno)
rumah pengasingan Bung Karno ini dirawat dan dijaga oleh satu orang penjaga dimana kalau ada yang mau berkunjung dan melihat lihat ke dalam rumah kita harus menghubungi petugas jaga itu terlebih dahulu.rumah pengasingan Bung Karno ini dirawat dan dijaga oleh satu orang penjaga dimana kalau ada yang mau berkunjung dan melihat lihat ke dalam rumah kita harus menghubungi petugas jaga itu terlebih dahulu.
tidak jauh dari situs rumah pengasingan ini, terdapat juga situs sejarah lainnya tentang Bung Karno yaitu Taman Renungan Bung Karno yang tepatnya berada di Lapangan Perse yang sekarang di sebut dengan lapangan Pancasila.
di taman ini terdapat patung Bung Karno yang sedang duduk di kursi panjang dengan posisi yang menghadap ke arah laut. kursi ini terletak di tengah kolam dangkal yang hanya diisi dengan bebatuan yang berwarna biru dengan tinggi air hanya sekitar 10cm.
persis di sebelah patung BUng Karno ini terdapat satu pohon sukun yang batangnya bercabang lima. Menurut cerita masyarakat, dibawah pohon sukun inilah Bung Karno sering duduk berteduh sambil memandangi daun sukun yang bergigi lima buah dan bersudut lima pada setiap sisinya. Filosofi daun sukun inilah yang menjadi perenungan Bung Karno akan dasar negara Indonesia yang kelak menjadi Pancasila.

Jumat, 01 Agustus 2014

Kelimutu Lake(s)

gunung dengan 3 kawah yang mempunyai warna berbeda tiap kawahnya

Gunung Kelimutu adalah gunung berapi yang terletak di Pulau Flores, Provinsi NTT, Indonesia. Lokasi gunung ini tepatnya di Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende. Gunung ini memiliki tiga buah danau kawah di puncaknya. Danau ini dikenal dengan nama Danau Tiga Warna karena memiliki tiga warna yang berbeda, dimana warna-warna itu tidak menetap untuk satu kawah,, maksudnya tiap kawah bisa berubah warna hingga 3 kali dalam satu tahun.
Namun, secara ilmiah, warna danau sangat ditentukan oleh kandungan mineral, pengaruh biota jenis lumut dan batu-batuan di dalam kawah tersebut serta pembiasan dari cahaya matahari.


Kelimutu merupakan gabungan kata dari "keli" yang berarti gunung dan kata "mutu" yang berarti mendidih. Menurut kepercayaan penduduk setempat, warna-warna pada danau Kelimutu memiliki arti masing-masing dan memiliki kekuatan alam yang sangat dahsyat.


Luas ketiga danau itu sekitar 1.051.000 meter persegi dengan volume air 1.292 juta meter kubik.
Danau atau Tiwu Kelimutu di bagi atas tiga bagian yang sesuai dengan warna - warna yang ada di dalam danau.  Danau yang pertama atau "Tiwu Ata Polo" dipercaya warga setempat merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang yang telah meninggal dan selama ia hidup selalu melakukan kejahatan. Danau kedua atau "Tiwu Nuwa Muri Koo Fai" merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa muda-mudi yang telah meninggal. Sedangkan danau ketiga atau "Tiwu Ata Mbupu" merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal. Danau yang ketiga ini berada sedikit terpisah dari danau pertama dan kedua dimana yang pertama dan kedua terletak bersebelahan hanya berbatas tebing.