Selama di Ende, Soekarno dan keluarganya menempati sebuah rumah di tengah perumahanan penduduk biasa.Rumah itu milik Abdullah Ambuwaru. Setelah Indonesia merdeka, Soekarno mengunjungi Ende untuk pertama kalinya pada tahun 1951. Ia bertemu Abdullah Ambuwaru dan meminta agar rumah tempat tinggalnya itu dijadikan museum. Pada kesempatan kunjungan yang kedua (1954), Soekarno meresmikan rumah tersebut sebagai Situs Bung Karno pada tanggal 16 Mei 1954.
Pada 1 Mei 2012 diletakkan batu pertama sebagai tanda renovasi Situs Bung Karno. Secara resmi, situs tersebut direnovasi pada 23 Juni 2012. Renovasi dilakukan secara total, mulai dari dinding, lantai sampai atap, tetapi tidak mengubah bangunan lama. Rencana renovasi merupakan inisiatif Wakil Presiden Boediono yang berkunjung ke Ende pada tahun 2009 dalam rangka menelusuri jejak pelopor utama kemerdekaan.Tujuan merenovasi Situs Bung Karno di Ende adalah untuk membuat ikatan batin antara Ende dan Republik Indonesia, antara satu generasi dengan generasi yang akan datang. Keterlibatan aktif Boediono ini diwujudkan dengan membentuk Yayasan Ende Flores yang kegiatan pertamanya adalah pemugaran bangunan fisik Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende. Pembangunan dilaksanakan selama kurang lebih satu tahun di bawah pengawasan Yayasan Ende Flores yang berkoordinasi dengan Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Situs bersejarah yang telah selesai dipugar diresmikan oleh Wakil Presiden Boediono pada tanggal 1 Juni 2013 yang bertepatan dengan peringatan hari Kelahiran Pancasila. (http://id.wikipedia.org/wiki/Rumah_Pengasingan_Bung_Karno)
rumah pengasingan Bung Karno ini dirawat dan dijaga oleh satu orang penjaga dimana kalau ada yang mau berkunjung dan melihat lihat ke dalam rumah kita harus menghubungi petugas jaga itu terlebih dahulu.rumah pengasingan Bung Karno ini dirawat dan dijaga oleh satu orang penjaga dimana kalau ada yang mau berkunjung dan melihat lihat ke dalam rumah kita harus menghubungi petugas jaga itu terlebih dahulu.
tidak jauh dari situs rumah pengasingan ini, terdapat juga situs sejarah lainnya tentang Bung Karno yaitu Taman Renungan Bung Karno yang tepatnya berada di Lapangan Perse yang sekarang di sebut dengan lapangan Pancasila.
di taman ini terdapat patung Bung Karno yang sedang duduk di kursi panjang dengan posisi yang menghadap ke arah laut. kursi ini terletak di tengah kolam dangkal yang hanya diisi dengan bebatuan yang berwarna biru dengan tinggi air hanya sekitar 10cm.
persis di sebelah patung BUng Karno ini terdapat satu pohon sukun yang batangnya bercabang lima. Menurut cerita masyarakat, dibawah pohon sukun inilah Bung Karno sering duduk berteduh sambil memandangi daun sukun yang bergigi lima buah dan bersudut lima pada setiap sisinya. Filosofi daun sukun inilah yang menjadi perenungan Bung Karno akan dasar negara Indonesia yang kelak menjadi Pancasila.
